Mengolah Daun Kaber Menjadi Tikar, Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

1785308849953.jpeg
Gambar: - ( Ledy Ferethy Ruth ) Sumber: https://baliku.krayantengah.my.id/

Kekayaan alam yang ada di wilayah Desa Baliku, Desa Long Rian, dan Desa Pa'Yalau menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat untuk terus berkarya. Salah satunya adalah memanfaatkan daun pandan atau daun kaber dalam bahasa Lundayeh, yang diambil langsung dari alam untuk diolah menjadi tikar anyaman.

 

Sebelum proses menganyam dimulai, para ibu terlebih dahulu mengumpulkan daun kaber, kemudian membersihkan duri nya, menjemur, dan menyusunnya agar siap digunakan. Proses ini dilakukan dengan penuh kesabaran karena setiap tahap akan menentukan kualitas tikar yang dihasilkan.

 

Bagi masyarakat Lundayeh, menganyam tikar dari daun kaber bukan sekadar membuat kerajinan tangan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Selain digunakan sebagai alas duduk atau alas tidur, tikar (Ugam) yang dikenal dalam bahasa Lundayeh, anyaman ini juga sering digunakan dalam berbagai kegiatan dan kehidupan sehari-hari.

 

Melalui semangat dan kebersamaan, para ibu dari Desa Baliku, Desa Long Rian, dan Desa Pa'Yalau terus menjaga tradisi menganyam agar tidak hilang ditelan zaman. Dari bahan alam yang sederhana, lahirlah sebuah karya yang tidak hanya indah dan bermanfaat, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya dan kearifan lokal yang patut dibanggakan.


Bagikan post ini: