Batu Asab: Warisan Leluhur Desa Baliku yang Dijaga dan Dihormati Hingga Kini

not image

Batu Asab: Warisan Leluhur Desa Baliku yang Dijaga dan Dihormati Hingga Kini

Desa Baliku, Krayan Tengah — Di tengah kekayaan tradisi dan cerita leluhur masyarakat Baliku, terdapat sebuah benda keramat yang hingga hari ini masih dihormati dan dijaga keberadaannya. Benda tersebut dikenal sebagai Batu Asab, sebuah batu yang menyimpan kisah petuah lama dan dipercaya memiliki keajaiban yang tidak boleh diabaikan.
Asal Usul dan Kepercayaan Lokal
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Batu Asab bukanlah batu biasa. Leluhur desa telah mewariskan petuah bahwa batu ini tidak boleh diganggu, baik dengan cara disiram air, dilempar batu, ataupun diolok-olok. Batu ini dianggap memiliki penunggu atau kekuatan alam yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tetapi dapat dirasakan melalui kejadian-kejadian alam yang menyertainya.

Petuah ini begitu kuat melekat dalam budaya Desa Baliku sehingga generasi muda pun tumbuh mendengar kisah peringatan mengenai Batu Asab.

Fenomena Alam yang Dipercaya Menyertainya

Cerita masyarakat menyebutkan bahwa siapa pun yang mencoba mengganggu Batu Asab akan merasakan akibatnya dalam waktu singkat. Berdasarkan kesaksian warga yang masih diingat hingga hari ini, hanya dalam waktu sekitar satu jam, setelah batu itu diganggu, akan terjadi:

Hujan yang sangat deras,

Angin kencang,

Dan kadang disertai perubahan suasana alam yang tiba-tiba gelap dan mencekam.


Berbagai kejadian ini membuat masyarakat percaya bahwa Batu Asab akan "marah" jika tidak dihormati. Fenomena ini terus menjadi bagian dari pengalaman hidup masyarakat Baliku, dan hingga kini diyakini masih terjadi.

Nilai Tradisi dan Kearifan Lokal

Batu Asab tidak hanya dilihat sebagai benda keramat, tetapi juga sebagai simbol kearifan lokal. Masyarakat Desa Baliku memahami bahwa petuah leluhur selalu memiliki makna mendalam:

Mengajarkan manusia untuk menghormati alam,

Menjaga sikap dan tutur kata,

Serta selalu berhati-hati dalam bertindak di lingkungan sakral.


Dalam konteks kehidupan masyarakat pedalaman, petuah tentang Batu Asab mengingatkan bahwa setiap bagian alam memiliki tempat dan perannya, dan manusia harus hidup selaras dengannya.

Penghormatan yang Tetap Dipertahankan Hingga Kini

Walaupun zaman terus berubah, penghormatan terhadap Batu Asab tetap dijaga oleh masyarakat Baliku. Orang-orang tidak berani mencoba-coba atau mengabaikan petuah tersebut, karena pengalaman nyata dari generasi ke generasi telah memperkuat keyakinan mereka.

Kepercayaan ini bukan sekadar mitos, tetapi telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Desa Baliku. Batu Asab juga menjadi simbol bahwa tradisi dan nilai leluhur masih hidup dan memberikan pedoman bagi masyarakat hingga hari ini.

Penutup

Batu Asab bukan sekadar batu, melainkan bagian dari sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Desa Baliku. Dengan menghormatinya, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga melestarikan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Kisah mengenai Batu Asab menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih menjadi pedoman hidup yang kuat di tengah perkembangan zaman.

Penulis : Kolen.Dawat

Bagikan post ini: