Musim Tanam Padi di Desa Ba’liku: Tradisi, Kebersamaan, dan Sumber Penghidupan Warga

1763798832764.jpeg

Desa Ba’liku, yang terletak di Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, merupakan salah satu wilayah perbatasan Indonesia yang langsung berbatasan dengan Malaysia. Di desa yang sejuk dan subur ini, para petani kembali memulai musim tanam padi di lahan sawah dan ladang tradisional mereka.


Meskipun teknologi pertanian terus berkembang, masyarakat Ba’liku tetap mempertahankan metode tanam tradisional. Proses penanaman dilakukan melalui penyebaran benih padi secara konvensional, baik di lahan basah (sawah) maupun lahan kering (ladang). Tradisi ini dilakukan dengan semangat gotong royong, di mana warga saling membantu untuk menyelesaikan pekerjaan di lahan masing-masing.


Jumlah benih dan pola penanaman pada lahan sawah biasanya disesuaikan dengan ukuran lahan milik warga. Semakin luas lahan, semakin banyak benih yang disiapkan. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan agraris masyarakat Ba’liku.


Padi menjadi komoditas penting bagi warga, karena selain sebagai sumber utama karbohidrat, tanaman ini juga menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia. Di Ba’liku, padi tidak hanya bernilai ekonomis tetapi juga budaya. Hasil olahan tanaman ini berupa beras menjadi kebutuhan sehari-hari, sehingga padi tetap menjadi tanaman yang sangat dibudidayakan oleh para petani setempat.


Desa Ba’liku dikenal memiliki berbagai jenis padi lokal, seperti padi Adan, padi merah, padi hitam, dan padi ketan. Di antara semua varietas tersebut, padi Adan menjadi yang paling terkenal. Padi ini tidak hanya dikenal di wilayah Krayan, tetapi juga telah dipromosikan hingga ke berbagai kota di Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Padi Adan sendiri memiliki beberapa varietas, antara lain padi Adan putih, Adan merah, dan Adan hitam—masing-masing dengan aroma, rasa, dan kualitas yang khas.


Sumber Penghidupan Utama Warga


Pada 2 September 2025, suasana kebersamaan kembali terasa kuat di Desa Ba’liku. Para pemuda dan pemudi terlihat bergotong royong dalam proses penanaman padi di sawah-sawah warga. Kegiatan ini mencerminkan realitas bahwa mayoritas penduduk Desa Ba’liku mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama, baik sebagai petani penuh waktu maupun sebagai pekerjaan sampingan di luar profesi utama seperti PNS.


Kesuburan lahan pertanian menjadi fondasi kehidupan ekonomi masyarakat Ba’liku hingga saat ini. Pertanian tidak hanya menyediakan bahan pangan, tetapi juga menjadi penopang utama ekonomi keluarga di desa tersebut.


Dengan tetap menjaga tradisi dan memanfaatkan kekayaan alam yang subur, masyarakat Ba’liku terus mempertahankan identitas dan ketahanan pangan mereka, sekaligus menjaga warisan budaya agraris yang telah dijalankan turun-temurun.

Bagikan post ini: